Selasa, 20 Desember 2016

TUGAS 1 PAPER IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH



IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
(TIK)  DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Paper ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Statistik Pendidikan dan Komputer
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Budi Murtiyasa
  
 Disusun oleh:
NAMA           : ARFAN RIFQI FAUZI
NIM                : Q100160069
KELAS          : I A


MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016


A.     Abstrak
Ulasan ini merangkum penelitian yang relevan pada penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apa yang terjadi di sekolah-sekolah mengenai integrasi dan penggunaan TIK untuk memeriksa persepsi guru tentang bagaimana proses belajar mengajar dapat ditingkatkan melalui penggunaan TIK.
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, menunjukkan bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran memberikan dampak positif baik pada siswa, guru, ataupun pada praktisi pendidikan. Dengan adanya kemajuan di bidang TIK maka pembelajaran dapat berlangsung kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun, sehingga tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dengan demikian diharapkan siswa akan lebih tertarik menggunakan TIK sebagai media pembelajaran dan dapat meningkatkan prestasinya.
Kata Kunci: TIK, Manfaat TIK, Implikasi TIK, Faktor yang mempengaruhi TIK, sikap guru dan keyakinan pada penggunaan TIK.
B.     Pendahuluan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) meliputi komputer, internet, dan sistem pengiriman elektronik seperti radio, televisi, dan proyektor secara luas digunakan dalam bidang pendidikan. TIK dapat memperluas akses pendidikan. Melalui TIK pembelajaran dapat terjadi setiap saat dan di mana saja. Materi pembelajaran online misalnya bisa diakses dimana saja asal ada jaringan internet. Beberapa sumber daya yang melimpah di Internet dan pengetahuan dapat diperoleh melalui video klip, suara audio, presentasi visual dan sebagainya. Istilah TIK ini bukan TIK sebagai Mata Pelajaran, melainkan sebagai segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, TIK sebagai information and communication technology based learning dan multimedia learning.
Keterampilan dalam menggunakan TIK akan menjadi persyaratan mutlak bagi guru dan siswa, beberapa penelitian dan laporan telah menyoroti peluang dan potensi manfaat TIK untuk meningkatkan kualitas pendidikan. TIK dipandang sebagai "alat utama untuk membangun masyarakat pengetahuan" (UNESCO 2003, 1) dan khususnya sebagai mekanisme di sekolah tingkat pendidikan yang bisa menyediakan cara untuk memikirkan kembali dan mendesain ulang sistem pendidikan dan proses sehingga mengarah pendidikan berkualitas untuk semua.
Manfaat TIK antara lain dapat membantu siswa dalam mengakses informasi digital secara efisien dan efektif, berpusat pada siswa dukungan dan pembelajaran mandiri, menghasilkan lingkungan belajar yang kreatif, mempromosikan pembelajaran kolaboratif dalam lingkungan pembelajaran jarak jauh, menawarkan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, meningkatkan pengajaran dan kualitas pembelajaran.
C.    Pembahasan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu (Teknologi Informasi) meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, dan pengelolaan informasi. Sedangkan (Teknologi Komunikasi) mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentrasfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk komputer (Computer literate) dan memahami informasi (Information literate).
Ada tiga pilar yang saling melengkapi guna penerapan TIK di sekolah, antara lain:
1.   Sistem Manajemen Sekolah
2. Strategi Pengembangan TIK di sekolah
3.Pengembangan budaya TIK di sekolah
Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK sebagai media pembelajaran dapat berdampak positif terhadap motivasi, keaktifan, dan hasil belajar siswa. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Jo Shan Fu (2013), Albert Sangrà dan Mercedes González-Sanmamed (2010), Charles Buabeng (2012), Aduwa-Ogiegbaen, S. E., dan Iyamu, E. O. S. (2005), Rosemary Deaney, Kenneth Ruthven and Sara Hennessy (2013).
1.      Jurnal Pupil Perspectives on the Contribution of Information and Communication Technology to Teaching and Learning in the Secondary School
Penelitian ini dilakukan oleh Rosemary Deaney, Kenneth Ruthven and Sara Hennessy (2013). Dari penelitian ini dapat disimpulkan perspektif siswa sangat cocok untuk pengembangan strategi berbasis sekolah. Tidak ada keraguan bahwa komputer dapat membantu proses pembelajaran dan memfasilitasi belajar siswa. TIK menawarkan berbagai keuntungan seperti kesempatan belajar yang lebih fleksibel tanpa terikat ruang dan waktu, mempermudah masyarakat mengakses pendidikan, memperkaya materi pembelajaran, menghidupkan proses pembelajaran, membuat proses pembelajaran lebih terbuka, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta mendukung siswa untuk belajar mandiri. Pemahanam peserta didik dari TIK berbeda tiap individu tergantung pada konteks penggunaannya, dari bagaimana mereka menggunakan teknologi dan isi dari apa yang mereka pelajari ketika dirumah. Namun ketika di sekolah, penekanan pada kegiatan belajar dikelola oleh guru dengan jadwal yang dirancang untuk memenuhi kriteria kurikulum dan target pencapaian dan menggabungkan penggunaan wajib TIK.
2.    Jurnal “ICT in Education: A critical Literatur Review and Its Implications”
Penelitian dilakukan oleh Jo Shan Fu (2013). Integrasi TIK dalam pendidikan memiliki kelebihan. Guru tidak lagi menggunakan cara-cara tradisional dalam mengajar, tetapi mengharuskannya untuk lebih kreatif dalam beradaptasi dan menyesuaikan materi ajar dengan strategi pembelajaran. Jadi guru perlu meningkatkan kesadarannya akan manfaat dari mengintegrasikan teknologi ke dalam pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan memberikan pengetahuan pedagogis yang berhubungan dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa serta integrasi teknologi strategi. Untuk mencapai tujuan ini, pembangunan yang lebih profesional diperlukan dengan fokus pada peningkatan keterampilan guru sehingga mereka mampu mengatasi kekhawatiran terkait dengan penggunaan teknologi. Selanjutnya, pendekatan pengajaran baru dan dukungan teknis harus ditawarkan oleh sekolah-sekolah untuk memungkinkan mereka untuk memfasilitasi belajar dengan TIK.



3.    Jurnal Factors influencing teachers’ adoption and integration of information and communication technology into teaching: A review of the literature
Penelitian dilakukan oleh Charles Buabeng (2012). Dari penelitian ini diketahui bahwa sikap guru terhadap teknologi mempengaruhi penerimaan mereka terhadap kegunaan teknologi dan integrasi ke dalam mengajar. Guru harus memahami teknologi, konsisten dengan nilai-nilai yang ada, dan mampu bereksperimen untuk melakukan inovasi dalam menerapkan TIK ke dalam pembelajaran, jadi guru dalam mengajar harus memberikan informasi faktor pendukung penggunaan TIK. Faktor kunci dalam studi ini adalah sikap guru terhadap teknologi atau niat untuk menggunakan teknologi dalam kelas mereka. Oleh karena itu guru perlu meyakini bahwa teknologi dapat membuat pengajaran mereka menarik, lebih mudah, lebih menyenangkan bagi  siswa, lebih memotivasi dan lebih menyenangkan. Pada tingkat sekolah, faktor-faktor seperti dukungan, pendanaan, pelatihan dan fasilitas mempengaruhi adopsi guru dan integrasi teknologi ke dalam kelas mereka. Pengembangan profesional guru merupakan faktor kunci untuk keberhasilan integrasi komputer ke dalam ruang kelas, jadi program pelatihan terkait TIK dapat mengembangkan kompetensi guru dalam menggunakan komputer.
4.      Jurnal The role of information and communication technologies in improving teaching and learning processes in primary and secondary schools
Penelitian dilakukan oleh Albert Sangrà dan Mercedes González-Sanmamed (2010). TIK dapat berkontribusi terhadap inovasi pendidikan berkelanjutan harus diperkenalkan dalam rencana strategis sekolah bahkan lebih dalam rencana mengajar setiap tahun. Kasus yang diteliti di mana ini begitu mencapai hasil yang lebih baik. Guru memiliki peran mendasar dalam menentukan apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya menggunakan TIK. Oleh karena itu sangat penting bagi guru ketika merancang proses mengajar, dalam rangka untuk lebih mengamati dan memahami penggunaan teknologi inovatif. Hal ini harus dipertimbangkan ketika menyusun Rencana Proses Pembelajaran (RPP), pengembangan ini memungkinkan guru dan sekolah untuk mengintegrasikan TIK secara tepat dalam proses belajar mengajar. Aspek-aspek seperti pelatihan yang berkesinambungan sangat berperan dalam peningkatan proses belajar mengajar dengan TIK. Jadi dapat dimpulkan bahwa TIK merupakan faktor kunci untuk inovasi, mengajar dan peningkatan proses pembelajaran dalam merefleksikan dan menganalisa mengapa TIK sangat penting dan ini akan memberikan kontribusi untuk potensinya sebagai elemen inovatif kurikulum dalam pembelajaran.
5.      Jurnal Using Information and Communication Technology in Secondary Schools in Nigeria: Problems and Prospects
Penelitian yang dilakukan oleh Samuel Ereyi Aduwa-Ogiegbaen and Ede Okhion Sunday Iyamu (2005) diketahui bahwa ada beberapa hambatan untuk keberhasilan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah menengah di Nigeria meliputi biaya, infrastruktur yang lemah, kurangnya keterampilan, kurangnya perangkat lunak yang relevan dan akses terbatas ke Internet.
Ada banyak prospek untuk penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bidang utama berikut menunjukkan berbagai aplikasi komputer dapat melayani guru dan siswa di Nigeria. Pertama, komputer dapat meningkatkan efisiensi pendidikan. Artinya, efisiensi dalam mengajar berbagai mata pelajaran dapat ditingkatkan, misalnya dengan komputer dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah peserta didik dengan fokus pada keterampilan berpikir terutama dalam subjek seperti matematika. Kedua, komputer dapat digunakan untuk pembelajaran individual. Karena kelas besar dan perbedaan dalam gaya belajar individu memungkinkan siswa untuk berbeda dalam menerima umpan balik. Ketiga, komputer dapat mengubah praktik pedagogis. Hal ini diterima secara universal bahwa komputer memungkinkan eksplorasi lebih mandiri, lebih banyak kegiatan pribadi disesuaikan, kerja sama tim lebih, dan lebih signifikan.
D.    Kesimpulan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin pesat telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk menyentuh dunia pendidikan. Karena itu, Guru sejatinya memberi contoh kepada siswa bahwa teknologi merupakan suatu keniscayaan yang sedang dihadapi, sehingga penguasaan teknologi adalah sesuatu yang harus direbut oleh siswa. Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran perlu diusahakan oleh guru sesuai dengan kemampuan masing-masing sekolah dan guru bersangkutan.
Bahwa terdapat tantangan-tantangan seperti keterbatasan anggaran untuk melengkapi infrastruktur yang mendukung pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi ini adalah fakta, namun satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat satu langkah awal yang mengarah pada penguasaan teknologi baik oleh guru maupun oleh siswa. Satu langkah awal selalu diikuti oleh langkah berikutnya dan terkadang oleh suatu lompatan besar. Karena itu, sekolah dan guru harus memprioritaskan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam program prioritas.
E.     Daftar Pustaka
1.      Deaney Rosemary, Kenneth Ruthven & Sara Hennessy. 2013. “Pupil Perspectives on the Contribution of Information and Communication Technology to Teaching and Learning in the Secondary School”. Research Papers in Education, 2003,  18 (2), 141-165.
2.      Fu, Jo Shan. 2013. “ICT in Education: A critical Literatur Review and Its Implications”. Jurnal National Institute of Education, Singapore , Vol. 9, Issue 1, pp. 112-125.
3.      Buabeng, Charles. 2012. Factors influencing teachers’ adoption and integration of information and communication technology into teaching: A review of the literature”. Jurnal Pentecost University College, Ghana. Vol. 8, Issue 1, pp. 136-155.
4.      SangrĂ , Albert & Mercedes González-Sanmamed. 2010.“The role of information and communication technologies in improving teaching and learning processes in primary and secondary schools”. Jurnal Universitat Oberta de Catalunya, Vol. 18, No. 3, November 2010, 207–220.
5.      Ogiegbaen, S.E.A & Ede Okhion Sunday Iyamu. 2005. Using Information and Communication Technology in Secondary Schools in Nigeria: Problems and Prospects”. Jurnal Faculty of Education, University of Benin, 8 (1), 104-112.

Fokus Subfokus dan Wawancara Penelitian Kualitatif



Fokus Subfokus dan Wawancara Penelitian Kualitatif
Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Pendidikan (Kualitatif)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Bambang Sumardjoko
   Description: Description: E:\LOGO\Logo UMS non warna.jpg
 Disusun oleh:
NAMA           : ARFAN RIFQI FAUZI
NIM                : Q100160069
KELAS          : I A


MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016


A.      Fokus Masalah :
Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR)
B.  Judul :
Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) Dalam Pengelompokan Kelas dan Pembelajarannya Studi Kasus di MIM PK Kartasura
C. Rumusan Masalah
1.    Bagaimana Implementasi pengelompokan kelas berdasarkan Multiple Intelligences Research (MIR) di MI Muhammadiyah PK Kartasura?
2.    Bagaimana keterkaitan antara pengelompokan kelas berdasarkan Multiple Intelligences Research (MIR)  dengan model pembelajaran audiotorial, visual, dan kinestetik sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki anak di MI Muhammadiyah PK Kartasura?
D. Wawancara
a.    Analisis persiapan Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) di MI Muhammadiyah PK Kartasura
MI Muhammadiyah PK Kartasura beralamatkan di Jl. Slamet Riyadi No. 80 Kartasura merupakan sekolah pertama di wilayah surakarta yang menerapkan metode atau riset Multiple Intelligences Research dalam pengelompokan kelas dan pembelajarannya. Bapak Nasrul Harahap, S Pd.I selaku kepala sekolah MI Muhammadiyah PK Kartasura memberikan keterangan latar belakang menerapkan metode atau riset Multiple Intelligences Research
“Awal mulanya melihat fenomena masyarakat bahwa yang ada sekolah sekarang harus ada syarat-syarat khusus atau harus melalui tes, kenapa sekolah harus dites, kenapa harus banyak syarat, kenapa sekolahunggulan identik dengan masuknya sulit melalui tes, berawal dari itu kita mencari referensi teori bagaimana membangun sekolah unggulan tanpa melalui tes, ketemulah teori tentang multiple Intelligences, dari teori itu, terus kita pelajari ternyata salah satunya untuk dapat mengetahui kecerdasan anak melalui suatu metode yang disebut MIR itu, kemudian kami menerapkan teori tersebut, semua siswa diterima karena memiliki kecerdasan yang berbeda-beda.”
Hasil wawancara dengan bapak Nasrul Harahap, S.Pd, I selaku kepala sekolah menjelaskan metode atau riset Multiple Intelligences Research (MIR) sebagai berikut :
MIR merupakan salah satu metode untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan anak yang turun menjadi gaya belajar atau metode pengelompokan kelas berdasarkan kecerdasan anak dan menyusun strategi pelajaran.”
Wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd.I ada referensi dalam melaksanakan metode Multiple Intelligences Research (MIR) menjelaskan:
MIR di MI Muhammadiyah PK Kartasura baru bisa beli langsung dari yang menyusun MIR tersebut, kalau buku dari teorinya Gandner dan Amstrong, Gandner dari teori nya MIR sendiri sementara amstrong dari dunia psikologinya”

Dalam wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd.I selaku kepala sekolah menyebutkan yang menjadi penyelenggara metode atau riset Multiple Intelligences Research (MIR) dan orang yang terlibat adalah:
“Pelaksana MIR atau mengumpulkan data dari guru tersendiri yang mempunyai sertifikat intreviwer yang sebelumnya intreview di seleksi dari penyusun tersebut, sementara yang menganalisis dari penyusun MIR ataupsikolog tersebut, ada 5 orang yang memenuhi syarat menjadi interviewer di MI Muhammadiyah PK Kartasura, tidak semua orang bisa menjadi interviewer. Ada ketentuan khusus untuk menjadi interviewer.”
b.      Analisis Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) di MI Muhammadiyah PK Kartasura
MI Muhammadiyah PK Kartasura dalam sejak tahun 2011 mengelompokan kelas yang efektif yang sesuai dengan kecerdasan anak dan gaya belajarnya menggunakan metode atau riset Multiple Intelligences Research (MIR).
Hasil Wawancara dengan Bapak Nasrul Harahap S.Pd.I Implementasi atau pelaksanaan metode Multiple Intelligences Research (MIR) sebagai berikut:
“Pelaksanaannya dengan menghadirikan orang tua asuh, belum tentu orang tua kandung , karena orang tua kandung belum tentu mengasuh, karena nanti yang diteliti habbit anak atau kebiasaan anak jadi nanti dihadirkan orang tua asuh dan anak untuk diwawancarai seputar kebiasaan anak. Informasi dari anak dan informasi orang tua digabungkan cocok tidak. Orang tua asuh adalah orang yang paling dekat dengan anak dirumah.”

Hasil wawancara dengan kepala sekolah saat implementasi metode Multiple Intelligences Research (MIR) di MIM PK Kartasura mengalami kendala yaitu :
“Ada, orang tua tidak jujur, yang dihadirkan tidak orang tua asuh atau tidak dekat dengan anak yang menyebabkan error analisis jadi tidak sesuai kenyataan, nanti akan MIR ulang dikelas 3, jadi kemungkinan naikkelas 4 akan berubah kelasnya, komposisi anak anak akan berubah.karena menurut gandner kecerdasan itu kan dinamis bukan statis, jadi bisa berkurang dan bertambah, jadi memungkinkan untuk pindah kelas.”

Hasil Wawancara dengan kepala sekolah menyampaikan ada faktor yang mendukung dan menghambat metode Multiple Intelligences Research (MIR) di MIM PK Kartasura sebagai berikut :
“Faktor yang mendukung program utama dalam pintu  masuk MI muhammadiyah PK kartasura yang harus dilakukan, semua siswa wajib melakukan MIR selain itu memiliki tenaga interviewer dan kerjasama dengan Nex Edu Surabaya yang memperlancar proses penyelenggaraan MIR. Faktor yang menghambat waktu, menghadirkan orang tua itu sulit dan juga keterbatasan waktu interviewer yang harus menjadwalkan wawancara.

Hasil Wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S. Pd.I mengatakan kendala yang paling sering ditemui guru saat akan mengajar kelas yang berbeda berdasar hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) adalah:
“Strategi yang dipilih harusnya berbeda dalam setiap kelas yang membutuhkan pemikiran yang tidak mudah tetapi mungkin karena waktu dan lain sebagainya membuat menggunakan strategi yang sama itulah yang membuat kegagagalan. Strategi sebenarnya boleh sama tetapi teknik penyampaian harusnya berbeda.”

Hasil wawancara Kepala sekolah bapak Nasrul Harahap S.Pd.I menjelaskan pembuatan strategi pembelajaran dalam tiap kelas dilakukan dengan cara sebagai berikut :
“ada dua macam, ada sudah yang dikasih strategi ini cocok dengan kelas ini tapi disisi lain guru juga diberi kebebasan untuk memilih strategi. Itu sudah wilayah full dalam pemilihan strategi.”

Kemudian bapak Nasrul Harahap S.Pd.I menjelaskan dalam menyiapkan media guru dalam tiap kelas sebagai berikut :
“Ada dua juga. Ada yang disiapkan, ada yang membawa sendiri atau membuat sendiri. Alat-alat peraga seperti peta, globe dan lain sebagainya sudah disiapkan sekolah, Bahan-bahan mentah juga biasanya sudah di siapkan sekolah, biaya ditanggung sekolah apabila guru membeli media sendiri, iya kadang siswa membawa sendiri, menyesuaikan kebutuhan yang digunakan seperti rumput dan lain-lain.”
Hasil Wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd.I selaku kepala sekolah interaksi antara siswa dan guru dalam pembelajaran berdasarkan hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) sebagai berikut:
“Tergantung strategi yang digunakan dalam proses pelajaran, hasil MIR membantu dalam interaksi dengan siswa karena sudah memahami teori MIR yang sudah mengetahui gaya belajar siswa, yang menyebabkan interaksi siswa dengan guru terjalin dengan baik.”

Kemudian menurut Bapak Nasrul Harahap S.Pd.I interaksi antara siswa dengan siswa lain dalam pembelajaran berdasarkan hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) menyampaikan penjelasan berikut:
“Iya membuat nyambung karena memiliki kecerdasan atau kesukaan yang sama, contohnya anak kinestetik akan senang diajak berlari dengan temannya yang anak kenestetik juga tetapi anak lingustik belum tentu mau. Belajar disini yang terpenting adalah kenyamanan, untuk konten masuk itu no 17, walaupun sudah mengakar dimasyarakat kalau belajar itu pinter mengerjakan soal, yang terpenting disini konsentrasi dengan perkembangan kecerdasan anak.”

Hasil Wawancara dengan kepala sekolah perbedaan yang paling mencolok  antara pembelajaran yang sesuai pengelompokan  berdasarkan hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) dengan pembelajaran sesuai pengelompokan secara acak adalah :
“Perbedaan yang paling mencolok pola komunikasi dan kenyamanan, misalnya kalau anak lingustik, anak kinestetik, anak lainnya menjadi satu kelas akan membuat kesulitan bagi guru dalam proses pembelajaran”

Hasil wawancara dengan kepala sekolah yang juga mengajar di kelas guru dalam menyikapi Implementasi pengelompokan kelas berdasar hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) sebagai berikut:
“Karena sadar belajar anak dengan anak belajar dewasa itu berbeda jadi guru harus masuk didunia anak, guru haruslah berfikir dan banyak kreativitas dan tidak membosankan.”
Hasil Wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd. I menyatakan ketersesuaian pengelompokan kelas dan pembelajarannya dari hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) di MIM PK Kartasura dengan gaya belajar siswa sebagai berikut :
“Iya sebisa mungkin sesuai kecuali ada error analisis, iktiar disini sudah sesuai dengan gaya belajar siswa, karenateori  ini juga karya manusia.”

Hasil wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd.I selaku kepala sekolah evaluasi pembelajaran dilakukan :
“Setiap saat setelah pembelajaran setiap khusus melalui Guardian Angel (GA), kalau secara umum ada setiap semester atau habis ujian.”
c.         Analisis Evaluasi Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) di MI Muhammadiyah PK Kartasura
Hasil wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd, I selaku kepala sekolah yang melakukan evaluasi dan monitoring terhadap implementasi pengelompokan kelas berdasar hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) adalah:
Guardian Angel (GA) kalau pembelajarannya, kalau pengelompokan dari Tim MIR, monitoring bisa dari pihak sekolah bisa dari Nex Edu Surabaya.”

Kemudian bapak Nasrul Harahap S.Pd.I menjelaskan  evaluasi dan monitoring sebagai berikut:
“Monitoring dilakukan bye phone atau email, sudah sesuai belum, sudah lengkap belum dicek dari sana setiap saat tidak tentu.
d.        Analisis guru terhadap Implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) untuk pengelompokan kelas dan pembelajarannya
Hasil wawancara dengan Kepala sekolah menjelaskan pembelajaran yang sesuai pengelompokan kelas berdasar hasil metode Multiple Intelligences Research (MIR) dengan pembelajaran yang sesuai pengelompokan acak sebagai berikut:
“Tentunya lebih mudah daripada kelas yang heterogen, beban guru lebih ringan walaupun tidak mudah dalam pengkondisiaanya perlu perjuangan, perlu ide kreatif.”

Hasil wawancara dengan bapak Nasrul Harahap S.Pd.I selaku kepala sekolah persepsi mengenai implementasi Multiple Intelligences Research (MIR) dalam pengelompokan kelas dan pembelajarannya sebagai berikut:
“Karena saya mendalami sejak awal, ini menjadi terobosan kita bisa memiliki, membuat format baru agar anak-anak itu lebih enak dalam belajarnya, selama ini saya pandang sampai saat ini, biasanya hanya berdasarkan abjad, yang duluan mendaftar, atau berdasarkan peringkat. Berdasar peringkat itu juga bagus tetapi antara kelas satu dengan kelas yang lainya memiliki kesulitan cara pembelajaran yang berbeda karena kelas memiliki kecerdasan logis-matematis yang berbeda dari tingkat tinggi ke tingkat yang rendah. Sampai saat ini pengelompokan yang terbaik adalah pengelompokan dengan Multiple Intelligences Research (MIR) sampai saat ini, kecuali kalau ada teori yang baru lagi seperti teori kecerdasan gardner yang berkembang”